Dolar Masih Bertahan Menguat Meski Data PMI AS di Bawah Ekspektasi

Dolar masih mempertahankan penguatannya di sesi New York hari ini, Kamis (3/3), meskipun data PMI sektor jasa AS menunjukkan output yang di bawah ekspektasi.

Hingga pukul 22:52 WIB, Indeks Dolar AS yang mengukur kekuatan USD versus sejumlah mata uang utama lainnya terpantau menguat 0.40 persen di kisaran level 97.74.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa Purchasing Manager’s Index (PMI) sektor jasa AS laju pertumbuhannya melambat dari 59.9 (data bulan sebelumnya) ke level 56.5 pada bulan Februari, meleset dari ekspektasi 61.2.

Sementara itu, konflik Rusia-Ukraina yang mendorong permintaan terhadap safe haven Dolar AS, masih terus menjadi perhatian utama pasar.

Berita terbaru dari konflik tersebut datang dari pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari ini. Dia mengatakan bahwa para pemimpin Barat sedang mempersiapkan perang melawan Rusia. Ia juga mengatakan, Moskow akan melanjutkan operasi militer di Ukraina sampai tujuan tercapai.

Lavrov menegaskan bahwa operasi militer di Ukraina bertujuan antara lain untuk memastikan Kyiv tidak bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Dari Amerika Serikat (AS), ketua The Fed Jerome Powell memberikan testimoni hari kedua di hadapan Senate Banking Committee, di Washington DC.

Pada hari pertama, Rabu (2/3), Powell mengatakan bahwa ia masih mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan bank sentral berikutnya akhir bulan ini, memprioritaskan perang melawan inflasi atas risiko dari konflik Rusia-Ukraina.

Pada hari kedua, Powell mengatakan bahwa naiknya harga-harga komoditi akan memicu kenaikan inflasi yang lebih tinggi. Ia pun menambahkan bahwa pasar tenaga kerja AS cukup solid sejauh ini. Sehingga, kenaikan suku bunga adalah langkah yang dipandang tepat.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.