Day Trading VS Swing Trading, Mana yang Lebih Baik?

Mana strategi/sistem trading yang lebih baik untuk perdagangan forex? Day Trading atau Swing Trading? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan trader. Kadang-kadang malah jadi ajang adu argumentasi yang cukup sengit ketika membandingkan keduanya, terutama persoalan profit mana yang lebih banyak dari kedua “style” itu.

Untuk masalah profit, mungkin tidak bisa dipungkiri, lebih banyak Day Trading ketimbang Swing Trading. Namun, banyak artikel yang menyebutkan, Money Management (MM) pada Swing Trading justru lebih stabil dan terukur lantaran penggunaan margin yang memang dibatasi, umumnya antara 1 hingga 3 persen saja. Sementara Day Trading biasanya lebih besar dari itu. Ada yang menyebutkan angka di antara 5 hingga 20 persen dari total balance.

Trader berpengalaman yang cenderung agresif, biasanya akan memilih Day Trading. Sementara, trader senior yang cenderung “santai” umumnya akan memilih Swing Trading. Ini karena pada dasarnya memang hanya persoalan pemilihan kerangka waktu (time frame) saja. Meski begitu, hal-hal lainnya barangkali memang memiliki beberapa karakteristik yang agak berbeda.

Day Trading

Sering disebut sebagai perdagangan harian, atau intraday. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa trader dengan style ini cenderung lebih banyak melibatkan faktor teknikal ketimbang fundamental. Trader yang sudah berpengalaman, biasanya akan lebih dulu melakukan pemetaan teknikal mulai dari kerangka waktu yang lebih besar, katakanlah Daily, hingga H1, untuk memastikan jalur tren secara keseluruhan.

Setelah itu, barulah mereka bersiap melakukan open posisi yang umumnya selalu searah tren, dengan mengamati kerangka waktu yang lebih kecil, misalnya M15 atau bahkan M5. Meski begitu, tidak jarang mereka juga membuka posisi yang sifatnya counter-trend, terutama ketika indikator teknikal pada kerangka waktu yang lebih besar dinilai sudah jenuh beli (overbought/OB) atau jenuh jual (oversell/OS).

OB dan OS bisa diukur, salah satunya dengan indikator RSI (Relative Strength Index). Apabila RSI pada time frame Daily sudah di bawah value 30 misalnya, ini sudah termasuk kategori jenuh jual. Sebaliknya, apabila RSI berada di atas value 70, ini sudah digolongan sebagai jenuh beli.

Yang menjadi persoalan adalah, OB dan OS terkadang tidak bisa diandalkan manakala berhadapan dengan tren yang kuat. Oleh sebab itu, day trader berpengalaman akan men-setup level Stop Loss (SL) yang sangat ketat untuk meminimalisasi kerugian ketika berada di posisi melawan tren.

Posisi transaksi biasanya tidak akan disimpan atau dibiarkan lebih dari satu hari. Posisi-posisi yang terbuka, atau katakanlah belum menyentuh target profit, akan ditutup pada saat-saat tertentu. Misalnya menjelang pembukaan sesi New York atau menjelang penutupan sesi Eropa/London. Tidak jarang, trader menutup sebuah posisi atau beberapa posisi day trading saat menjelang rilis data ekonomi penting yang diperkirakan berdampak tinggi mempengaruhi pergerakan harga.

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa teknik scalping pada dasarnya juga tergolong day trading. Ini karena scalper yang berpengalaman biasanya juga akan lebih dahulu melakukan pemetaan teknikal mulai dari kerangka waktu yang lebih besar dan kemudian turun ke time frame yang lebih kecil. Perbedaan yang barangkali mencolok adalah, scalping biasanya dilakukan dengan falsafah: open posisi dengan cepat serta agresif, exit posisi juga dengan cepat atau dengan target yang terbatas, untuk mengejar keuntungan rata-rata mulai 5 hingga 10 pips saja.

Dari paragraf di atas, beberapa poin penting barangkali bisa dirangkum seperti di bawah ini.

Ciri-ciri Day Trading:

  • Lebih cenderung mengutamakan faktor teknikal
  • Melakukan pemetaan teknikal dari kerangka waktu lebih besar untuk membaca arah tren sebelum membuka posisi
  • Kerangka waktu (time frame) H1, M15 dan M5, sering menjadi pilihan favorit sebagai acuan untuk membuka posisi yang searah tren
  • Trader cenderung agresif, terutama scalper
  • Posisi transaksi tidak disimpan lebih dari satu hari
  • Tidak membuka posisi pada saat menjelang rilis data ekonomi penting

Swing Trading

Sering disebut dengan trading jangka menengah hingga jangka panjang, lantaran trader pengguna strategi ini terbiasa menahan posisi lebih dari satu hari, lebih dari satu minggu, atau bahkan lebih dari satu bulan.

Jika Day Trading cenderung mengutamakan sisi teknikal saja, Swing Trading juga memperhitungkan faktor fundamental. Umumnya swing trader selalu memantau perkembangan situasi terkini dari kebijakan moneter bank sentral, inflasi harga konsumen, suku bunga, outlook pasar tenaga kerja, neraca perdagangan, politik, dan seterusnya. Barulah kemudian mengamati tren perjalanan harga mulai dari kerangka waktu yang lebih luas, mulai dari time frame Weekly atau Daily.

Meskipun tidak setiap hari membuka posisi perdagangan, time frame H4 dan H1 biasanya jadi pilihan untuk mengambil posisi yang selalu searah dengan tren. Karena menggunakan margin yang minim, biasanya level Stop Loss (SL) juga menjadi lebih lebar ketimbang Day Trading. Begitu pula target profit, yang terkadang bisa mencapai puluhan hingga ratusan pips.

Dari paragraf di atas, beberapa poin penting barangkali bisa dirangkum seperti di bawah ini.

Ciri-ciri Swing Trading:

  • Selain teknikal, faktor fundamental juga diperhitungkan
  • Tidak setiap hari membuka posisi perdagangan
  • Melakukan pemetaan teknikal dari kerangka waktu lebih besar untuk membaca arah tren sebelum membuka posisi
  • Kerangka waktu (time frame) H4 dan H1, sering menjadi pilihan untuk membuka posisi yang searah tren
  • Tidak agresif, cenderung “santai” dengan Money Management yang ketat
  • Posisi transaksi disimpan lebih dari satu hari, satu minggu, atau bahkan lebih dari satu bulan

Dari paparan tersebut di atas, manakah yang lebih baik? Day Trading atau Swing Trading? Barangkali jawabannya adalah sejauh mana kita merasa nyaman terhadap salah satu dari kedua style itu.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *