Dolar Menguat Meski Data Consumer Confidence AS di Bawah Ekspektasi

Dolar masih mempertahankan penguatannya di sesi New York hari ini, Jumat (28/6), meskipun data Consumer Confidence AS merilis angka di bawah ekspektasi. Penguatan Dolar AS terjadi karena Presiden European Central Bank (ECB), Christine Lagarde, dianggap tidak memberikan wawasan baru terkait prospek kebijakan bank sentral.

Hingga pukul 22:15 WIB, Indeks Dolar AS yang mewakili kekuatan USD terhadap beberapa mata uang utama lainnya terpantau menguat 0.46% di kisaran level 104.43.

ECB secara luas diperkirakan akan mengikuti kebijakan bank sentral utama lainnya dengan menaikkan suku bunga pada bulan Juli. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi yang melonjak di kawasan Zona Euro, meskipun perkiraan para ekonom terbelah pada besaran kenaikan suku bunga.

Analis TD Securities New York, Mazen Issa, mengatakan: “ECB berada di posisi yang sulit karena kebijakannya diperkirakan akan lebih lambat ketimbang bank sentral utama lainnya. Ada beberapa hal yang melekat dan membatasi hal tersebut, terkait dengan perang yang sedang berlangsung di Ukraina dan risiko fragmentasi di Zona Euro.”

Sementara itu, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, dalam sebuah wawancara di CNBC pada Selasa (27/6) mengatakan bahwa suku bunga harus berada di rentang angka 3% dan 3,5% pada akhir tahun ini. Akan tetapi dia tidak menyinggung tentang ancaman resesi AS terkait kebijakan suku bunga yang agresif.

Dari AS, data yang dirilis di sesi New York hari ini menunjukkan bahwa Consumer Confidence (kepercayaan konsumen) kembali turun di bulan Juni, menyusul penurunan yang terjadi di bulan Mei. Conference Board Inc. melaporkan hasil survei terbaru bahwa kepercayaan konsumen di bulan Juni turun dari 103.2 ke level 98.7, meleset dari ekspektasi 100.00.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.