Bursa Asia Menghijau Hari Ini, IHSG Melemah Sendirian; Saham BBRI dan GOTO Diborong Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah hari ini, Senin (27/6/2022). Sementara itu, bursa saham utama Asia justru menghijau.

IHSG ditutup melemah 26,88 poin atau 0,38% ke posisi 7.016,05 pada akhir perdagangan, ditekan oleh tergelincirnya lima indeks sektoral.

Sektor yang turun paling rendah adalah sektor energi (-1,35%). Disusul, sektor barang baku (-0,67%) dan sektor barang konsumer non primer (0,31%).

Sedangkan, sektor yang menguat paling tinggi adalah sektor transportasi (5,0%). Diikuti, sektor infrastruktur (0,84%) dan sektor perindustrian (0,71%).

Data perdagangan menunjukkan, nilai transaksi harian di pasar modal Tanah Air mencapai Rp 12,54 triliun dengan volume sebanyak 21,45 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,20 juta kali.

Sebanyak 249 saham bergerak naik, 262 saham lainnya melemah dan 173 saham bergerak mendatar. Adapun, nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di level Rp 9.168,07 triliun.

Saham-saham yang paling banyak dibeli investor hari ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 654,4 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 590,7 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 576,3 miliar.

Performa IHSG tidak senada dengan laju bursa Asia yang berada di zona hijau. Indeks Nikkei, Tokyo naik 1,43%, indeks Hang Seng, Hong Kong juga naik 2,35%. Sedangkan, indeks Shanghai Composite dan indeks Straits Times menguat masing-masing sebesar 0,88%.

Sejumlah analis mengatakan, sentimen yang datang dari luar negeri dan domestik mempengaruhi pergerakan IHSG kali ini.

Dari luar negeri, International Monetary Fund (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS. Kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif bisa mendinginkan permintaan. Tapi di sisi lain, AS akan menghindari resesi secara terbatas.

Sedangkan, dari dalam negeri, World Bank memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh 5,1% di tahun 2022 dan naik menjadi 5,3% di tahun 2023. Proyeksi ini didasarkan pada beberapa faktor pendukung, seperti kepercayaan konsumen yang meningkat, nilai tukar perdagangan yang lebih baik, serta lonjakan permintaan yang tertahan (pent-up demand).

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.