Dolar AS Berupaya Bangkit, Tapi Bias Jangka Pendek Masih Negatif

Dolar AS berupaya bangkit dari pelemahan 2 pekan beruntun pada hari ini, Selasa (31/5). Akan tetapi, penguatannya masih belum cukup signifikan untuk mengubah outlook teknikal dalam jangka pendek.

Hingga pukul 21:57 WIB, Indeks Dolar AS yang mengukur kinerja USD terhadap sejumlah mata uang utama lainnya terpantau menguat 0.60% di kisaran level 101.90.

Indeks Dolar AS (Time Frame DAILY)

Secara teknikal dalam jangka pendek, indikator RSI sejauh ini masih bergerak di wilayah negatif. Sehingga, masih ada risiko bahwa penguatan USD kemungkinan hanya sementara dan akan kembali melanjutkan penurunannya.

Beberapa analis Barat menganggap wajar apabila terjadi penguatan Dolar AS di penghujung bulan Mei, setelah sebelumnya mengalami pelemahan selama dua pekan berturut-turut. Selain itu, pelaku pasar juga tampaknya mengambil jeda dari bangkitnya Euro dan Pound, menjelang data tenaga kerja AS yang akan diumumkan Jumat pekan ini.

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga European Central Bank semakin mengemuka setelah data inflasi terbaru yang dirilis hari ini. Pada periode Mei, Consumer Price Index (CPI) Zona Euro berbasis tahunan berakselerasi dari 7.4% ke level 8.1%, melebihi ekspektasi 7.7%.

Sedangkan Core CPI Zona Euro berbasis bulanan meningkat dari 3.5% ke level 3.8% yoy, melebihi ekspektasi 3.5%.

Analis Saxo Markets Hong Kong, Redmond Wong, mengatakan kepada Reuters: “Fokus telah bergeser dari inflasi yang lebih tinggi dan lebih banyak kenaikan suku bunga menjadi kekhawatiran tentang apakah pengetatan The Fed telah memberi tekanan pada ekonomi. Itu telah menyebabkan dolar melemah selama beberapa pekan terakhir.”

Namun, ia juga menambahkan bahwa masih belum pasti apakah Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) akan beralih dari langkah pengetatan yang agresif. Ia mengingatkan bahwa tren dolar yang lebih lemah ini masih dapat berisiko berbalik arah.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.