Dolar AS Bangkit Lagi, Tapi Penguatannya Masih Terbatas; Inflasi Inggris Meningkat

Dolar AS bergerak naik terhadap beberapa mata uang rival utamanya pada hari ini, Rabu (18/5). Akan tetapi, penguatannya masih terbatas sejauh ini.

Hingga pukul 22:11 WIB, Indeks Dolar AS terpantau menguat 0.28% di kisaran level 103.59. Adapun pada perdagangan Selasa (17/5), Indeks Dolar terkoreksi tajam 0.85% ke level 103.29.

Indeks Dolar AS (Time Frame Daily)

Dolar mendapat dorongan dari pernyataan ketua Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed), Jerome Powell, yang memberikan nada lebih hawkish.

Pada Selasa, Powell mengatakan bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga setinggi yang diperlukan, termasuk mengambil suku bunga di atas netral, untuk membatasi lonjakan inflasi yang dapat mengancam fondasi ekonomi.

Analis Caxton di London, Michael Brown, mengatakan: “Koreksi USD yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah diperkirakan berumur pendek. Secara teknikal, koreksi Indeks Dolar dibatasi level support sebelumnya (level 103.20). Jika digabungkan dengan latar belakang ekonomi (global) yang suram, membuat USD masih tetap kuat untuk sementara ini.”

Sementara itu, data ekonomi terbaru dari Inggris menyebutkan bahwa Consumer Price Index (CPI) berbasis tahunan mencatat angka 9.0% di bulan April, sedikit lebih rendah dari ekspektasi 9.1%, tapi meningkat dari data yang dirilis bulan sebelumnya (7.0%).

Sedangkan, inflasi inti atau Core CPI berbasis tahunan menunjukkan angka 6.2%, sesuai ekspektasi, tapi lebih tinggi dari data bulan sebelumnya (5.7%).

Data inflasi Inggris tersebut makin meningkatkan tekanan pada Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) untuk bertindak.

BoE telah menaikkan suku bunga menjadi 1% pada pertemuan penetapan kebijakan terakhirnya. Lonjakan inflasi Inggris mengindikasikan bahwa BoE tampaknya terpaksa akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneter meskipun dengan risiko resesi yang juga meningkat.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.