Dolar AS Menguat, Ada Potensi Sanksi Tambahan untuk Rusia

Dolar AS masih bertahan menguat di awal perdagangan sesi New York hari ini, Senin (4/4). Sementara, Euro merosot cukup tajam di tengah meningkatnya pembicaraan atas sanksi tambahan terhadap Rusia pasca invasinya ke Ukraina.

Hingga pukul 21:53 WIB, Indeks Dolar AS terpantau menguat 0.31 persen di kisaran level 98.87. Sedangkan, EUR/USD turun 0.51 persen di kisaran 1.0990.

Laporan tenaga kerja AS yang solid pada Jumat (1/4) pekan lalu makin meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih besar pada bulan Mei.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan hari Senin bahwa sanksi tambahan untuk Rusia diperlukan dan ada indikasi bahwa pasukan Rusia melakukan kejahatan perang.

Menteri Pertahanan Jerman Christine Lambrecht pun ikut menambahkan dengan mengatakan bahwa Uni Eropa harus membicarakan tentang mengakhiri impor gas dari Rusia.

Namun, Christian Wolfgang Lindner, politikus Jerman dari Free Democratic Party (FDP) yang menjabat sebagai Menteri Keuangan Federal sejak 8 Desember 2021, mengingatkan bahwa mengakhiri impor gas dari Rusia justru akan merugikan Uni Eropa (UE).

Analis Commerzbank, Ulrich Leuchtmann, mengatakan: “Sanksi yang lebih banyak tentu saja juga berarti bahwa risiko disrupsi energi di Eropa meningkat. Karena sanksi UE atau karena Rusia mungkin benar-benar serius dengan sanksi balasan daripada hanya mengubah cara pembayaran untuk gas alam. Dalam pandangan saya, pelemahan euro dapat berisiko meningkat secara signifikan.”

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.