Melonjak Naik Kemarin, Indeks Dolar Terkoreksi Lagi

Dolar AS sempat melompat tajam versus beberapa mata uang utama lainnya pada perdagangan kemarin, namun kemudian berbalik arah dan kembali melemah. Volatilitas pasar mata uang terjadi setelah pernyataan hawkish dari ketua The Fed Jerome Powell.

Powell mengatakan pada Selasa (30/11) bahwa The Fed akan membahas penyelesaian pengurangan pembelian aset yang lebih cepat dari perkiraan. Pernyataan ini menyebabkan USD menguat tajam sesaat, setelah itu kehilangan tenaga untuk melanjutkan keunggulannya.

Di sisi lain, sebagian investor tampaknya tetap berhati-hati menyikapi Omicron, varian baru Covid-19. Virus corona jenis baru ini berisiko menghambat pemulihan ekonomi. Sehingga, pengetatan moneter The Fed yang tergesa-gesa justru semakin menambah ketidakpastian secara global.

Hingga pukul 22:08 WIB pada Rabu (1/12), Indeks Dolar AS terpantau melemah 0.19 persen di kisaran level 95.70.

Data yang dirilis dari AS hari ini menunjukkan bahwa ADP Non-Farm Employment Change untuk periode November menambahkan tenaga kerja di sektor swasta sebanyak 534K, melebihi perkiraan 525K. Namun, masih lebih kecil dari periode sebelumnya yang sebanyak 570K.

Institute for Supply Management (ISM) juga melaporkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur AS berekspansi ke level 61.1 di bulan November, meleset dari ekspektasi 61.3 tapi lebih tinggi dari periode sebelumnya (60.8).

Sementara itu, analis Bank of America-Merrill Lynch Jepang, Shusuke Yamada, mengatakan kepada Reuters: “Investor tetap berhati-hati. Sangat sulit untuk membuat penilaian tentang dampak omicron ketika kita tidak memiliki banyak informasi.”

Sedangkan, analis Westpac mengatakan: “Nada hawkish Powell yang tak terduga semalam, pada dasarnya menegaskan bahwa risiko inflasi memiliki keunggulan ketimbang risiko Omicron. Ini akan membuat indeks dolar terus bergerak naik.”

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.