Dolar Stabil Di Sesi New York

Sempat naik cukup tajam tadi pagi (WIB) pada Senin (18/10). Tapi kemudian penguatan Dolar terkikis di sesi New York.

Dolar ditopang oleh lemahnya data terbaru pertumbuhan ekonomi China. Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury juga turut mendukung Greenback.

Hingga pukul 22:36 WIB, Indeks Dolar AS terpantau menguat tipis 0.03 persen di kisaran level 93.98.

Adapun pada perdagangan Jumat (15/10), Indeks Dolar ditutup turun 0.03 persen ke posisi 93.95.

Biro Statistik Nasional China melaporkan hari ini bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 4,9%, melambat signifikan dari kuartal II-2021 sebesar 7,9%, dan di bawah ekspektasi 5,2%.

Gubernur People’s Bank of China (PBoC) Yi Gang mengatakan bahwa risiko dari perlambatan dapat dikendalikan. Namun angka-angka tersebut memicu kegelisahan baru. Investor memperhatikan krisis kredit di sektor real estate. Sektor ini memiliki porsi lebih besar dari investasi bisnis lainnya di negara ekonomi terbesar kedua di dunia.

Analis Nordea mengatakan: “China tetap berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target pertumbuhan resmi 6% selama setahun penuh, dibantu oleh efek dasar yang lemah dan paruh pertama yang kuat tahun ini.

Tapi alasan dibalik perlambatan diperkirakan tidak akan hilang dalam waktu dekat dan ada banyak risiko penurunan pada perkiraan pertumbuhan untuk 2022.”

Dari AS, Federal Reserve melaporkan data terbaru hari ini bahwa Industrial Production tercatat -1.3% mom (month-over-month) untuk September. Angka ini turun dari bulan sebelumnya -0.1% mom dan lebih kecil dari ekspektasi 0.3%.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.