Dolar Stabil, Pasar Menanti Laporan Tenaga Kerja AS

Dolar AS masih terpantau bergerak cukup stabil versus beberapa major currencies lainnya di sesi New York hari ini, Kamis (07/10). Pergerakan pasar mata uang dibayangi oleh lonjakan harga energi yang disertai inflasi. Hal ini dapat menganggu pemulihan ekonomi.

Investor cenderung mengambil sikap hati-hati menjelang data tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat (07/10). Data tersebut diperkirakan berdampak tinggi mempengaruhi sentimen.

Hingga pukul 21:11 WIB, Indeks Dolar AS terpantau turun 0.10% di kisaran level 94.13.

Adapun pada perdagangan Rabu (06/10), Indeks Dolar ditutup menguat 0.27% ke posisi 94.23. Ini adalah penguatan 2 hari beruntun.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran mingguan (Unemployment Claims) untuk periode pekan yang berakhir 2 Oktober mencatat jumlah klaim sebanyak 326K. Angka tersebut turun dari minggu sebelumnya 364K dan lebih rendah dari ekspektasi 350K.

Sementara itu, pelaku pasar mengkhawatirkan naiknya harga energi. Harga minyak mentah mencapai level tertinggi tujuh tahun sebelum turun dari tren kenaikan baru-baru ini. Gas alam naik ke rekor puncak di Eropa. Harga batubara dari eksportir utama juga mencapai semua level tertinggi.

Analis Pepperstone, Chris Weston, mengatakan: “Semua pembicaraan di lantai perdagangan, di media sosial, dan melalui pasar yang luas adalah seputar gas alam.”

“Investor khawatir risiko stagflasi sedang dalam perjalanan dan mempertanyakan bagaimana bank sentral menangani peristiwa stagflasi yang didorong oleh kejutan pasokan.” ujarnya menambahkan.

Investor juga terus memantau proses negosiasi plafon utang pemerintah federal AS. Ketua Minoritas Senat AS Mitch McConnell mengatakan bahwa Partai Republik akan mengizinkan perpanjangan hingga Desember 2021.

Di tempat lain, sejumlah analis memperkirakan Dolar AS akan terus menguat terhadap mata uang utama lainnya.

Analis ING mengatakan: “Risiko terbesar bagi indeks dolar yang lebih kuat mungkin berasal dari penilaian ulang substansial atas risiko inflasi dari European Central Bank (ECB),”

Jajak pendapat Reuters dari para analis FX menunjukkan bahwa mayoritas memperkirakan dolar akan tetap dominan dalam waktu dekat sebelum terkoreksi dalam setahun ke depan.

Analis Credit Agrigole, Valentin Marinov, mengatakan: “Untuk kuartal keempat safe-haven USD diperkirakan tetap tangguh karena The Fed bergerak lebih dekat menuju tapering dalam beberapa pekan mendatang. Selain itu, resolusi plafon utang juga akan meningkatkan pasokan Treasuries AS,”

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.