Indikator Moving Average – Part 1

Pengertian

Moving Average (MA) adalah indikator teknikal yang populer dan paling sering digunakan untuk menganalisa pergerakan harga sebuah pasangan mata uang. Indikator ini sederhana, mudah diimplementasi, serta tersedia pada semua platform perdagangan mata uang (forex trading).

Hampir semua trader menggunakannya, mulai dari tingkat pemula hingga profesional. Indikator ini juga dapat disesuaikan, sehingga trader atau investor bebas memilih periode/kerangka waktu untuk mengukur/mengamati kurva dari rata-rata pergerakan harga.

Moving Average atau pergerakan rata-rata, secara umum digunakan untuk melihat atau memonitor arah tren pada periode waktu tertentu dari sebuah pergerakan pasangan mata uang. Pergerakan rata-rata ini, dihubungkan dengan garis yang kemudian menjadi kurva yang akan terus bergerak mengikuti perjalanan harga. Karena sifatnya yang didasarkan pada harga yang telah terjadi atau terbentuk sebelumnya, maka indikator ini disebut sebagai lagging indicator.

Semakin besar kerangka/periode waktu yang digunakan, semakin besar pula lag atau keterlambatan yang tergambar pada sebuah chart. Katakanlah, anda sedang mengamati chart atau grafik time frame Daily, maka MA 200 (pergerakan rerata 200 hari) akan memiliki lag yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan MA 100 (pergerakan rata-rata 100 hari). Begitu pula, MA 100 akan memiliki lag yang lebih besar ketimbang MA 50.

Rerata yang lebih kecil, umumnya digunakan untuk perdagangan jangka pendek. Sedangkan rerata yang lebih besar, biasanya digunakan untuk jangka menengah hingga jangka panjang. Kurva MA yang cenderung naik, menjadi indikasi bahwa harga sebuah pasangan mata uang sedang dalam kondisi tren naik (uptrend). Sebaliknya, kurva MA yang cenderung turun, menjadi indikasi bahwa harga sedang bergerak turun (downtrend).

Ada 3 jenis MA yang tersedia dalam platform perdagangan forex, yaitu:

  • Simple Moving Average (SMA)
  • Exponential Moving Average (EMA)
  • Weighted Moving Average (WMA)

Formula SMA:

Formula EMA:

Formula WMA:

Mana yang Lebih Efektif, SMA, EMA atau WMA?

Karena EMA menggunakan exponentially weighted multiplier untuk memberi bobot lebih pada harga terkini, sebagian trader beranggapan bahwa EMA adalah indikator tren yang lebih baik ketimbang WMA atau SMA. EMA dinilai lebih responsif terhadap perubahan tren.

Di sisi lain, smoothing yang lebih mendasar yang diberikan oleh SMA dapat membuatnya lebih efektif untuk menemukan area support dan resistance sederhana pada grafik.

Fungsi EMA dan WMA serupa, lebih bergantung pada harga terbaru dan menempatkan nilai lebih rendah pada harga lama. Trader menggunakan EMA dan WMA daripada SMA jika mereka khawatir bahwa efek keterlambatan data dapat mengurangi daya tanggap rata-rata pergerakan harga.

Namun, semua jenis MA memiliki kelemahan yang signifikan karena mereka adalah indikator lagging yang didasarkan pada data sebelumnya. MA akan mengalami jeda sebelum menunjukkan indikasi perubahan tren.

Akan tetapi, lag ini juga dianggap berguna untuk teknikal tertentu yang dikenal sebagai persilangan (cross) MA. Indikator teknis yang dikenal sebagai death cross adalah terjadi ketika SMA 50 turun menembus di bawah SMA 200, dan dianggap sebagai sinyal bearish. Sebaliknya, golden cross tercipta ketika SMA 50 naik menembus di atas SMA 200, dan dianggap sebagai sinyal bullish.

Berikut gambar di bawah ini adalah SMA, EMA dan WMA periode 50 pada time frame atau chart H1 (1 jam). Karena menggunakan chart H1, maka kita membacanya sebagai kurva pergerakan rata-rata 50 jam.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *