Advertisement

Outlook Mingguan dan Data Fundamental 26 - 30 Agustus 2019

Ditulis oleh Satrio pada 25 August 2019 23:37


Forexindo - Fluktuasi pasar berlangsung ramai pekan lalu, di tengah isu Brexit dan perang dagang AS-China yang mempengaruhi pergerakan mata uang utama (major currencies). Dolar AS bergerak menguat di awal pekan, tapi kemudian melemah setelah Pidato ketua The Fed Jerome Powel di Jackson Hole yang ditanggapi secara sinis oleh Presiden AS Donald Trump.

Dalam pidatonya di acara pertemuan tahunan para pemimpin dan pejabat beberapa bank sentral terkemuka, Powell antara lain mengatakan bahwa ia siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi AS, terkait adanya kekhawatiran atas tumbuhnya potensi resesi. Ia menambahkan bahwa secara keseluruhan ekonomi AS menunjukkan kinerja yang baik. Tapi Powell juga mengakui ketidakpastian kebijakan perdagangan yang tampaknya memainkan peran dalam perlambatan global.

Beberapa saat setelah pidato Powell, tanggapan yang cukup keras datang dari cuitan Trump. Lewat akun Twitter-nya, Presiden AS itu mengatakan bahwa The Fed tidak melakukan apapun seperti biasanya. Bank sentral itu berbicara tanpa mengetahui atau menanyakan apa yang sudah atau sedang dilakukan oleh Trump (untuk ekonomi AS). Ia juga mengatakan bahwa AS memiliki Dolar yang sangat kuat dan The Fed yang sangat lemah.

Cuitan itu terkait dengan keinginan Trump agar The Fed kembali menurunkan suku bunganya, agar produk-produk buatan AS dapat bersaing di pasar global untuk mendukung perekonomian AS yang sejauh ini masih tetap kuat, meski tanda-tanda pelemahan mulai tampak akibat dampak dari perang dagang.

Tanda-tanda itu datangnya dari data PMI manufaktur AS yang dirilis Kamis (22/8) yang mengalami kontraksi untuk pertamakalinya dalam 10 tahun terakhir.

Tapi yang paling mengkhawatirkan pasar adalah cuitan Trump terkait perang dagang AS-China, setelah Beijing mengumumkan kenaikan tarif balasan terhadap barang-barang AS senilai $75 miliar. Lewat akun Twitter-nya, Trump membalas langkah China tersebut dengan akan mengenakan tarif impor tambahan sebesar 5 persen pada sekitar US$ 550 miliar barang-barang dari China. Trump bahkan meminta perusahaan-perusahaan AS agar segera memindahkan kantor operasional mereka keluar dari
Tiongkok.

USD/JPY langsung anjlok tajam dan XAU/USD melompat tinggi setelah cuitan itu, mencerminkan kecemasan pasar yang segera bereaksi dengan memburu aset safe-haven Yen dan Gold.

Indeks Dolar yang mewakili kekuatan USD terhadap sejumlah mata uang utama lainnya tercatat melemah 0.96 persen ke posisi 97.26 di sepanjang pekan, setelah sempat naik ke 98.45 di awal pekan.

Di sisi yang lain, Euro mampu membukukan rebond terhadap Dolar AS dengan mengambil keuntungan dari melemahnya Dolar hingga penutupan perdagangan menjelang akhir pekan. Rilis data PMI manufaktur Zona Euro yang lebih baik ketimbang bulan sebelumnya, walaupun masih terkontraksi, turut berkontribusi mendukung permintaan terhadap mata uang Euro. Meski begitu, penguatan Euro tampaknya masih dibayangi oleh isu bahwa European Central Bank (ECB) akan meluncurkan program stimulus berskala masif untuk mendorong pertumbuhan inflasi.

EUR/USD mencatatkan rebound 0.59 persen ke posisi 1.1144 pada penutupan perdagangan Jumat (23/8).Di sepanjang pekan, Euro menguat 0.49 persen terhadap Dolar.

Sementara itu, Poundsterling membukukan rebound yang lebih kuat ketimbang Euro, didukung oleh pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel pada Kamis (22/8). Merkel mengatakan bahwa Uni Eropa dan Inggris akan dapat mencari solusi backstop Irlandia sebelum tanggal 31 Oktober mendatang.

Rilis data inflasi Inggris pada pekan sebelumnya yang diluar dugaan meningkat melebihi ekspektasi, juga berkontribusi mendukung rebound Poundsterling.

GBP/USD ditutup lebih tinggi 0.26 persen ke posisi 1.2282 pada perdagangan Jumat (23/8), setelah menanjak 1.02 persen pada Kamis (22/8). Di sepanjang pekan, Poundsterling berakhir menguat 1.06 persen terhadap Dolar AS.

Untuk pekan berikutnya, perkembangan terbaru perang dagang AS-China masih akan diamati secara ketat oleh pasar. Sementara itu, dari AS, data Durable Goods Orders, Consumer Confidence, GDP dan Personal Spending, akan menjadi perhatian investor untuk mengukur sejauh mana dampak perang dagang terhadap data-data tersebut.

Berikut di bawah ini adalah kompilasi data/peristiwa fundamental yang diperkirakan berdampak mempengaruhi sentimen:

Senin 26 Agustus
- Ifo Business Climate Jerman
- Durable Goods Orders AS
- Pidato Presiden Fed St. Louis, James Bullard
- G7 Meetings

Selasa 27 Agustus
- Final GDP Jerman
- Consumer Confidence AS

Rabu 28 Agustus
- Construction Work Done Australia
- Consumer Climate Jerman
- Nationwide HPI Inggris

Kamis 29 Agustus
- ANZ Business Consfidence, New Zealand
- Private Capital Expenditure Autralia
- CPI Jerman
- Estimasi GDP kuartal kedua 2019 AS
- Jobless Claims dan Pending Home Sales AS

Jumat 30 Agustus
- Building Approvals Australia
- Retail Sales Jerman
- CPI Zona Euro
- GDP Kanada
- Personal Income/Spending AS
- Chicago PMI dan Consumer Sentiment AS

Source: https://www.investing.com/news/forex-news/forex--weekly-outlook-august-26--30-1962892
comments powered by Disqus

Tentang Forexindo

Forexindo.com adalah Portal dan forum komunitas trader forex Indonesia. Menyediakan signal gratis, berita dan analisa harian, diskusi berbagai strategi, robot trading/expert advisor, analisa teknikal, analisa fundamental

RISK WARNING : Forex is risky.

Copyright 2005-2019 Forexindo.com