Advertisement

Mata Uang Emerging Market Tertekan, Rupiah Ditutup Melemah 22 Poin ke Rp 14.185 per Dolar AS

Ditulis oleh Satrio pada 25 March 2019 19:36


Forexindo - Rupiah berlanjut melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (25/3/2019). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 22 poin atau 0,16% di level Rp 14.185 per dolar AS.

Pada perdagangan Jumat (22/3), rupiah ditutup terdepresiasi 23 poin atau 0,16% ke posisi Rp 14.163 per dolar AS.

Rupiah mulai melanjutkan pelemahannya dengan dibuka melemah 42 poin atau 0,30% di level Rp 14.205 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp 14.185 - Rp 14.225 per dolar AS.

Mata uang lain di Asia mayoritas juga melemah terhadap dolar AS petang ini, saat investor menghindari aset-aset pasar negara berkembang (emerging market) di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global.

“Mata uang emerging market di Asia harus waspada atas tekanan emerging market yang baru,” ujar Eugene Leow, pakar strategi suku bunga di DBS Bank, dalam risetnya.

“Mungkin ada kondisi berbalik untuk mata uang yang diuntungkan dari jeda [kenaikan suku bunga] the Fed tahun ini. Mata uang itu di antaranya rupee India, rupiah, dan peso Filipina,” lanjutnya.

Kekhawatiran tentang kondisi ekonomi dunia meningkat pekan lalu setelah pernyataan dovish The Fed mengakibatkan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun merosot ke level terendah sejak awal 2018.

Pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengutarakan komentar yang mengindikasi rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut untuk menunda kenaikan suku bunga tahun ini.

Ini tampaknya mengkonfirmasi sikap dovish The Fed sekaligus mendatangkan kekhawatiran baru tentang perlambatan negara adidaya tersebut.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun AS tercatat pada posisi 1,9 basis poin di bawah suku bunga tiga bulan, setelah inversi yield terjadi untuk pertama kalinya sejak 2007 pada Jumat (22/3).

Secara historis, kurva inversi yield, di mana tingkat jangka panjang jatuh di bawah jangka pendek, menandakan resesi yang akan datang.

Won Korea Selatan dan yen Jepang memimpin pelemahan di antara mayoritas mata uang di Asia, masing-masing sebesar 0,36% dan 0,26%. Namun, beberapa mata uang mampu bergerak positif, dipimpin baht Thailand yang menguat 0,55% terhadap dolar AS pukul 17.25 WIB.

“Ada penghindaran risiko terhadap pasar Asia hari ini, dipicu aksi jual di pasar AS pada Jumat (22/3/) akibat kekhawatiran pertumbuhan global,” ujar Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ, Singapura.

“Inversi kurva imbal hasil AS telah meningkatkan kekhawatiran tentang prospek ekonomi. Namun, baht Thailand mampu melawan aksi penghindaran tersebut dan menguat pascapemilu akhir pekan kemarin,” tambahnya, dikutip Bloomberg.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan USD terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,136 poin atau 0,14% ke level 96,515 pada pukul 17.16 WIB.

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,014 poin atau 0,01% di level 96,637. Pada perdagangan Jumat (22/3), indeks dolar mampu berakhir menguat 0,16% atau 0,156 poin di posisi 96,651.

Source: https://market.bisnis.com/read/20190325/93/904123/aset-emerging-market-tertekan-rupiah-pun-melemah-lagi-
comments powered by Disqus

Tentang Forexindo

Forexindo.com adalah Portal dan forum komunitas trader forex Indonesia. Menyediakan signal gratis, berita dan analisa harian, diskusi berbagai strategi, robot trading/expert advisor, analisa teknikal, analisa fundamental

RISK WARNING : Forex is risky.

Copyright 2005-2019 Forexindo.com