Outlook Mingguan dan Data Fundamental 18 - 22 Februari 2019

Ditulis oleh Satrio pada 18 February 2019 02:47


Forexindo - Meski sempat menguat, Dolar AS berbalik melemah di sesi New York pada hari Jumat (15/2), menyusul pernyataan Presiden Fed San Fransisco, Mary C. Daly, yang mengatakan bahwa bank sentral AS berpotensi tidak menaikkan suku bunga pada tahun 2019, karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dan lesunya inflasi.

Indeks Dolar yang mewakili kekuatan USD terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, ditutup melemah tipis 0.06% pada perdagangan Jumat. Namun di sepanjang pekan (11-15 Februari), Indeks Dolar masih menguat 0.34%. Pekan sebelumnya (4 - 8 Februari) Indeks Dolar membukukan reli 1.17%, didukung oleh kekhawatiran pasar atas prospek negosiasi perdagangan AS-China.

Sementara itu, Euro berusaha untuk pulih pada perdagangan Jumat, dengan penguatan tipis 0.02% di kisaran 1.1296. Di sepanjang pekan, Euro ditutup melemah 0.3 persen terhadap Dolar AS, setelah pekan sebelumnya (4 - 8 Februari) merosot 1.09 persen.

Risk appetite atau minat pasar terhadap aset berisiko yang muncul di awal pekan setelah pernyataan Trump yang konstruktif terhadap prospek pembicaraan perdagangan AS-China di Beijing, tampaknya cukup berhasil menahan Euro untuk tidak tergelincir lebih rendah.

Di sisi yang lain, Sterling berhasil mempertahankan rebound-nya terhadap Greenback pada perdagangan Jumat dengan penguatan 0.65% ke posisi 1.2896, setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May pada hari Kamis (14/2) menderita kekalahan simbolis atas strategi Brexit-nya. Meski demikian, di sepanjang pekan, GBP/USD masih tercatat turun 0.31%.

Untuk perdagangan pekan berikutnya (18 - 22 Februari), pembicaraan perdagangan AS-China yang akan berlanjut di Washington dan rilis notulen FOMC, akan menjadi sorotan pasar.

Baik AS dan China melaporkan kemajuan dalam negosiasi perdagangan pekan lalu, namun Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa perundingan itu "sangat rumit" dan bahwa ia kemungkinan akan memperpanjang batas waktu 1 Maret dan mempertahankan kenaikan tarif impor AS atas barang China.

Bea masuk AS atas impor barang China senilai $200 miliar ditetapkan naik dari 10% menjadi 25% jika tidak ada kesepakatan tercapai pada batas waktu yang ditentukan.

Pidato dari sejumlah pejabat the Fed, termasuk Presiden Fed New York John Williams dan kepala Fed St Louis James Bullard, juga akan menjadi perhatian pasar. Termasuk rilis data Durable Goods Orders AS.

Berikut di bawah ini adalah kompilasi data/peristiwa fundamental yang diperkirakan berdampak mempengaruhi sentimen market:

Senin 18 Februari
- Inggris mempublikasikan data industri tentang inflasi harga rumah
- Pasar finansial AS Libur President's Day

Selasa 19 Februari
- Publikasi notulen meeting kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA)
- Inggris merilis Jobs Report bulanan
- ZEW Institute menerbitkan laporan Economic Sentiment Jerman dan Zona Euro

Rabu 20 Februari
- Jepang merilis data Trade Balance
- Australia mempublikasi data Wage Price Index atau indeks upah

Kamis 21 Februari
- Notulen FOMC
- Australia merilis Jobs Report
- Jerman dan Zona Euro melaporkan data PMI sektor jasa dan manufaktur
- Publikasi notulen meeting European Central Bank (ECB)
- AS merilis data Durable Goods Orders dan Philly Fed Manufacturing Index

Jumat 22 Februari
- Pidato Gubernur Bank of canada (BoC) Stephen Poloz
- Pidato Gubernur RBA Philip Lowe
- Ifo Institute menerbitkan laporan Business Climate Jerman
- Jerman merilis data GDP
- Zona Euro merilis data inflasi (CPI)
- Kanada mempublikasi data Retail Sales
- Pidato President Fed New York, John Williams
- Pidato Presiden ECB Mario Draghi


Source: https://www.investing.com/news/forex-news/forex--weekly-outlook-feb-18--22-1782023

Tentang Forexindo

Forexindo.com adalah Portal dan forum komunitas trader forex Indonesia. Menyediakan signal gratis, berita dan analisa harian, diskusi berbagai strategi, robot trading/expert advisor, analisa teknikal, analisa fundamental

RISK WARNING : Forex is risky.

Copyright 2005-2020 Forexindo.com