Advertisement

Outlook Mingguan dan Data Fundamental 24 - 28 September 2018

Ditulis oleh Satrio pada 24 September 2018 01:51


Forexindo - Dolar AS terangkat naik pada hari Jumat (21/09) pekan lalu, mengambil keuntungan dari anjloknya Poundsterling pasca pidato PM Inggris yang mengatakan bahwa negosiasi Brexit telah menemui jalan buntu.

Indeks Dolar yang mewakili kekuatan USD terhadap beberapa mata uang utama lainnya tercatat menguat 0.34% ke posisi 93.80 hingga menjelang penutupan perdagangan di akhir pekan. Namun demikian, di sepanjang pekan (17 - 21 September), Indeks Dolar masih melemah, dengan depresiasi atau penurunan 1.18%.

Melemahnya Dolar adalah karena investor tidak terlalu merisaukan perang dagang AS - China, setelah dampak penerapan tarif impor terbaru ternyata tidak seburuk yang dikhawatirkan sebelumnya. AS dan China menetapkan tarif impor satu sama lain pada tingkat yang lebih rendah dari yang diperkirakan. Hal ini meningkatkan harapan bahwa konflik dagang di antara kedua negara dengan ekonomi yang terbesar di dunia itu akan mereda.

Sementara itu, PM Inggris Theresa May pada hari Jumat mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan bahwa negosiasi Brexit telah menemui jalan buntu setelah Uni Eropa (UE) menolak proposal Brexit terbaru yang diusulkan oleh pemerintahannya. May mengatakan bahwa UE seharusnya menghormati Inggris dengan menawarkan alternatif baru.

Salah satu permasalahan terbesar dalam negosiasi Brexit adalah masalah pabean perbatasan Irlandia. Uni Eropa dan Inggris masih belum dapat mencapai kesepkatan tentang bagaimana memastikan aturan pasca Brexit, mengenai polemik perbatasan antara Irlandia Utara yang menjadi bagian dari Inggris, dengan Irlandia yang masih menjadi bagian dari Uni Eropa.

Setelah pidato Theresa May, GBP/USD turun tajam 1.46% ke posisi 1.3060 di perdagangan Jumat yang mengikis kenaikan dalam satu pekan, sehingga di sepanjang pekan GBP/USD hanya mencatatkan kenaikan tipis 0.04%.

Euro ikut terseret melemah setelah anjloknya Poundsterling, dengan EUR/USD yang ditutup lebih rendah 0.24% pada hari Jumat. Tapi di sepanjang pekan, Euro masih membukukan kenaikan 1.03% terhadap Dolar.

Untuk pekan berikutnya (24 - 28 September), perkembangan atau berita terbaru terkait Brexit masih akan menjadi perhatian pasar, termasuk informasi terbaru tentang konflik dagang antara AS - China. Namun notulen FOMC akan lebih menjadi fokus investor dimana Federal Reserve diperkirakan menaikkan suku bunga dari 2.00% menjadi 0.25%.

Berikut di bawah ini adalah kompilasi data/peristiwa fundamental yang diperkirakan berdampak mempengaruhi sentimen pasar:

- CB Consumer Confidence AS, Selasa 25 September pukul 21:00 WIB:
Ukuran tingkat kepercayaan konsumen dari Conference Board mencapai angka 133.4 di bulan Agustus, tertinggi sejak November 2000. Angka tersebut menarik perhatian Presiden Trump. Tapi bisakah angka ini terus meninggi? Karena sentimen konsumen berkorelasi dengan tingkat konsumsi.

- New Home Sales AS, Rabu 26 September pukul 21:00 WIB:
Bertolak belakang dengan segmen lain dari ekonomi AS, pertumbuhan sektor perumahan agak terhambat. Penjualan rumah baru (new home sales) mengecewakan dengan tingkat tahunan 627K unit di bulan Juli. Analis memperkirakan angka yang sama untuk bulan Agustus.

- Statement FOMC, Kamis 27 September dini hari pukul 01:00 WIB:
Kemungkinan besar Federal Reserve akan menaikkan tingkat suku bunga. Statement FOMC yang akan disusul dengan konferensi pers, akan lebih menjadi perhatian pasar ketimbangan naiknya suku bunga. Pertanyaan yang relatif lebih terbuka adalah; apakah the Fed juga akan melakukan hal yang sama di bulan Desember? Atau apakah the Fed akan beralih dari akomodasi kebijakan moneter yang ketat menjadi netral? Kebijakan yang ketat berarti akan menetapkan suku bunga di atas tingkat inflasi. Data upah yang dirilis pekan lalu masih tetap solid, dengan kenaikan 0.4% dan 2.9%. Namun angka Core CPI mengecewakan dengan penurunan dari 2.4% menjadi 2.2%. Komposisi Fed saat ini cukup hawkish dan pendiriannya tidak akan berubah pada saat ini. Beberapa angka inflasi yang lebih lemah mungkin akan diperlukan untuk mengubah
kebijakan bank sentral. Reaksi pertama akan datang dari dot-plot: dokumen yang merinci proyeksi Fed untuk suku bunga dan juga untuk inflasi, pertumbuhan, dan pasar tenaga kerja. Angka-angka numerik ini mudah dicerna oleh pasar, sebelum konferensi pers ketua the Fed Jerome Powell. Pasar kemungkinan akan gelisah menjelang pernyataan Powell yang diperkirakan juga akan menyinggung masalah perang tarif. Tapi pernyataan berikutnya diperkirakan dapat mempengaruhi sentimen dalam satu minggu ke depan.

- New Zealand rate decision, Kamis 27 September pukul 04:00 WIB:
Reserve Bank of New Zealand belakangan ini bergeser ke sisi yang dovish, membuka pintu untuk penurunan suku bunga. Namun tim yang dipimpin oleh Adrian Orr kemungkinan tidak akan melakukannya pada saat sekarang. Pengulangan kebijakan dovish dan terutama petunjuk pemotongan suku bunga yang akan datang, kemungkinan akan membebani Kiwi, meskipun rilis data GDP menunjukkan hasil yang positif.

- Gross Domestic Product (GDP) kuartal kedua AS (final), Kamis 27 September pukul 19:30 WIB:
Perekonomian AS tumbuh dengan laju tahunan 4.2% di kuartal kedua 2018, tercepat dalam 4 tahun. Ini sesuai dengan estimasi kedua. Estimasi ketiga (final) kemungkinan akan menghasilkan angka yang sama, memungkinkan Trump untuk meraih lagi keberhasilannya.

- Durable Goods Orders AS, Kamis 27 September pukul 19:30 WIB:
Data ini mewakili investasi sehingga diawasi ketat oleh the Fed karena juga berkontribusi terhadap GDP. Data ini turun di bulan Agustus, namun analis memperkirakan kenaikan di bulan September.

- Gross Domestic Product (GDP) kuartal kedua Inggris (final), Jumat 28 September pukul 15:30 WIB:
Perekonomian Inggris tumbuh 0.2% di kuartal kedua menurut data bulan sebelumnya. Rilis data ini diharapkan dapat memberikan outlook yang lebih luas tentang ekonomi Inggris.

- Inflasi Zona Euro, Jumat 28 September pukul 16:00 WIB:
Inflasi (CPI) mencapai 2% di bulan Agustus, menyentuh target ECB. Namun inflasi inti (Core CPI) mengecewakan dengan hanya 1% dimana kenaikan harga energi telah membuat perbedaan. Presiden ECB Mario Draghi tidak terlalu khawatir atas inflasi inti yang lemah, dalam konferensi pers terakhirnya. Analis memperkirakan data ini akan meningkat di bulan September, di saat ECB mengurangi skema pembelian obligasi.

- GDP Kanada, Jumat 28 September pukul 16:00 WIB:
Kanada merilis GDP bulanan untuk Juli, pembacaan pertama menuju kuartal ketiga. Data ini bulan lalu mengecewakan, tapi kuartal kedua cukup positif secara umum setelah lemah di kuartal pertama. Analis memperkirakan data ini akan meningkat ketimbang bulan sebelumnya.

- Core PCE Price Index AS, Jumat 28 September pukul 19:30 WIB:
Data ini adalah pengukuran inflasi yang paling diperhatikan oleh the Fed karena berbeda dalam hal metodologi. Core PCE meningkat 0.2% di bulan sebelumnya (Juli 2018). Analis memperkirakan kenaikan 0.1% di bulan Agustus. Penurunan yang signifikan akan berisiko menekan Dolar.

Source: https://www.forexcrunch.com/forex-weekly-outlook-sep-24-28-the-fed-decides-and-tariffs-are-implemented/
comments powered by Disqus

Tentang Forexindo

Forexindo.com adalah Portal dan forum komunitas trader forex Indonesia. Menyediakan signal gratis, berita dan analisa harian, diskusi berbagai strategi, robot trading/expert advisor, analisa teknikal, analisa fundamental

RISK WARNING : Forex is risky.

Copyright 2005-2019 Forexindo.com