Advertisement

Outlook Mingguan dan Data Fundamental 17 - 21 September 2018

Ditulis oleh Satrio pada 17 September 2018 00:41


Forexindo - Greenback berbalik menguat terhadap beberapa major currencies rival-rivalnya di perdagangan Jumat (14/09/2018), sekaligus mengurangi pelemahan dalam satu pekan. Beberapa hari sebelumnya Greenback berada dalam tekanan menyusul meredanya kekhawatiran pasar atas tensi perang dagang global, ditambah rilis data inflasi (PPI dan CPI) AS yang meleset dari perkiraan.

Indeks Dolar yang mewakili kekuatan USD terhadap beberapa mata uang utama lainnya ditutup menguat 0.47% ke posisi 94.97 menjelang penutupan perdagangan di akhir pekan. Namun di sepanjang pekan (10 - 14 September) indeks masih tercatat melemah 0.38%.

Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics) AS melaporkan Kamis (13/09) bahwa inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) di bulan Agustus mencatatkan kenaikan 0.2%, lebih rendah dari ekspektasi untuk kenaikan 0.3%.

Inflasi inti atau Core CPI (tidak termasuk sektor pangan dan energi) membukukan kenaikan 0.1%, meleset dari perkiraan untuk kenaikan 0.2%.

Departemen Perdagangan AS melaporkan Jumat (14/09) bahwa penjualan ritel domestik (Retail Sales) naik 0.1% di bulan Agustus. Ini adalah kenaikan yang terendah dalam enam bulan, tetapi angka Juli direvisi lebih tinggi, mendukung pandangan pada belanja konsumen yang solid pada kuartal ketiga.

Universitas of Michigan juga melaporkan pada hari Jumat bahwa, belanja konsumen, yang menyumbang dua pertiga dari ekonomi AS, kemungkinan akan terus menguat karena optimisme konsumen meningkat ke level tertinggi sejak Maret.

Sementara itu, meskipun sempat naik ke level tertinggi 2 pekan di perdagangan Jumat dengan menyentuh 1.1721, Euro mundur lagi terhadap Dolar dan kemudian berakhir dengan pelemahan 0.57% ke posisi 1.1623.

European Central Bank (ECB) mempertahankan kebijakan moneternya pada hari Kamis, tetap di jalur untuk mengakhiri pembelian obligasi di bulan Desember tahun ini dan menaikkan suku bunga pada musim gugur tahun 2019.

Mengikuti mata uang Euro, Poundsterling juga ikut terseret turun terhadap Dolar setelah naik ke 1.3145 yang menjadi level tertinggi sejak 31 Juli. Poundsterling kemudian ditutup melemah 0.29% ke posisi 1.3070.

Bank of England (BoE) juga mempertahankan kebijakan moneternya dan menyoroti kekhawatiran pasar keuangan terkait permasalahan Brexit.

Untuk perdagangan pekan berikutnya (17 - 21 September 2018), dengan sedikit data ekonomi, pasar kemungkinan akan fokus pada berita terbaru terkait konflik perdagangan, setelah adanya laporan pada hari Jumat pekan lalu bahwa Presiden AS Donald Trump tetap ingin menerapkan tarif impor tambahan atas produk China senilai $200 miliar.

Wall Street Journal melaporkan dengan mengutip sumber-sumber yang dekat dengan masalah ini, bahwa tingkat tarif mungkin akan menjadi sekitar 10%, di bawah angka 25% yang sebelumnya direncanakan Pemerintahan Trump.

Selain retorika konflik dagang, pekan berikutnya relatif sepi dari data ekonomi AS, dengan laporan di sektor perumahan yang diperkirakan dapat menarik perhatian investor.

Para ekonom menganggap bahwa data-data AS yang dirilis pekan lalu tidak akan dapat mengubah ekspektasi atas prospek Federal Reserve menaikkan suku bunga di akhir September, dan di bulan Desember tahun ini.

Data inflasi (CPI) dan Retail Sales Inggris akan menjadi perhatian pasar di tengah berlangsungnya negosiasi Brexit yang intensitasnya akan meningkat dalam sepekan mendatang, dengan tiga pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa yang diharapkan bisa menyelesaikan kesepakatan dalam dua bulan ke depan.

Data inflasi (CPI) dan PMI Zona Euro di sektor manufaktur dan jasa, juga akan menjadi perhatian investor.

Berikut di bawah ini adalah kompilasi data/peristiwa fundamental yang diperkirakan berdampak mempengaruhi sentimen market:

Senin 17 September
- Zona Euro merilis data inflasi (CPI)
- AS melaporkan data Empire State Manufacturing Index

Selasa 18 September
- Reserve Bank of Australia (RBA) mempublikasi notulen meeting kebijakan moneter
- Pidato Presiden ECB, Mario Draghi

Rabu 19 September
- Bank of Japan (BoJ) mengumumkan kebijakan moneter, disusul dengan konferensi pers
- Inggris merilis data inflasi (CPI, PPI dan RPI)
- AS melaporkan data Building Permits dan Housing Starts

Kamis 20 September
- New Zealand merilis data GDP kuartal kedua
- Swiss National Bank (SNB) mengumumkan suku bunga
- Inggris merilis data Retail Sales
- AS merilis data Jobless Claims dan Phily Fed Manufacturing Index

Jumat 21 September
- Zona Euro merilis data PMI manufaktur dan jasa
- Inggris melaporkan data Public Sector Net Borrowing
- Kanada merilis data inflasi (CPI) dan Retail Sales

Source: https://www.investing.com/news/forex-news/forex--weekly-outlook-september-17--21-1611899
comments powered by Disqus

Advertisement 5

Advertisement 6

Berita Forex Terbaru

EUR/USD Menggoda Tertinggi Harian Di Sekitar 1,1390
(4 menit yang lalu)

Indeks Harga Produsen (Tahunan) Jerman Desember Mencatat 2.7%, Meleset Dari Harapan 3.2%
(24 menit yang lalu)

USD/JPY Tetap Merah Di Dekat Terendah Sesi, Di Sekitar Pertengahan-109,00-an
(24 menit yang lalu)

Indeks Harga Produsen (Bulanan) Jerman Desember Meleset Dari Harapan -0.1%
(24 menit yang lalu)

EUR/USD: Agak Stabil - Commerzbank
(29 menit yang lalu)

EUR/USD: Agak Stabil - Commerzbank
(29 menit yang lalu)


Tentang Forexindo

Forexindo.com adalah Portal dan forum komunitas trader forex Indonesia. Menyediakan signal gratis, berita dan analisa harian, diskusi berbagai strategi, robot trading/expert advisor, analisa teknikal, analisa fundamental

RISK WARNING : Forex is risky.

Copyright 2005-2019 Forexindo.com